ERGA DIGITAL MULTIMEDIA
CREATE - CAPTURE - BROADCAST

Bulan Juli 2026 ini Rukun Santoso Losari & Teguh Wahyu Manunggal Ramaikan Syukuran di Kab Semarang

Rukun Santoso Losari dan Teguh Wahyu Manunggal memukau ratusan warga dalam Pagelaran Budaya Mahakarya Nusantara di Kabupaten Semarang. Simak jalannya pentas Reog tradisional dari siang hingga malam.

0 107,387

KABUPATEN SEMARANG – Kesenian tradisional Jawa kembali menunjukkan eksistensinya melalui penampilan Kesenian Tradisional Rukun Santoso Losari dan Paguyuban Reog Teguh Wahyu Manunggal dalam Pagelaran Budaya Mahakarya Nusantara, yang digelar dalam rangka Syukuran Bapak Suyitno, Minggu (19/7/2026), di Dusun Kenongo, Desa Lemahireng, Kabupaten Semarang.

Pagelaran yang berlangsung sejak siang hingga malam hari tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Ratusan warga dari Kenongo maupun wilayah sekitar memadati lokasi untuk menyaksikan berbagai atraksi seni tradisional yang dikemas dalam pertunjukan kolosal. Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya Jawa melalui regenerasi para pelaku seni.

Rukun Santoso Losari Buka Pentas dengan Tiga Babak Pertunjukan

Rukun Santoso Losari

Rangkaian acara dimulai pukul 13.00 WIB dengan penampilan Rukun Santoso Losari dari Grabag sebagai pembuka pagelaran. Selama lebih dari empat jam, kelompok seni tersebut membawakan tiga babak pertunjukan yang menampilkan kekayaan unsur seni tradisional Jawa.

Babak pertama diawali dengan atraksi Buto Cilik, menghadirkan karakter bertopeng yang tampil energik diiringi musik gamelan. Pertunjukan kemudian berlanjut ke babak Prajuritan, menampilkan koreografi yang menggambarkan semangat kepahlawanan serta kekompakan para pemain.

Puncak sesi siang ditutup melalui penampilan Senterewe (Jaranan Putri) yang diperankan oleh para penari perempuan. Dengan gerakan yang dinamis, kostum yang khas, serta iringan musik tradisional, penampilan ini menjadi magnet utama pagelaran siang dan berhasil menarik perhatian ratusan penonton hingga sesi pertama berakhir pada pukul 17.15 WIB.

Rukun Santoso Losari

Kesenian Tradisional Rukun Santoso Losari, sebuah paguyuban seni yang berasal dari Desa Losari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Paguyuban ini dikenal sebagai salah satu kelompok seni yang aktif melestarikan berbagai pertunjukan tradisional Jawa, khususnya kesenian Reog dan Jaranan, yang memadukan unsur tari, musik tradisional, teatrikal, hingga nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam setiap pementasan, Rukun Santoso Losari tidak hanya menyuguhkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan pesan tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Setiap gerakan tari, irama gamelan, hingga karakter yang ditampilkan merupakan bagian dari kekayaan budaya Jawa yang terus dijaga keberlangsungannya.

Kepercayaan masyarakat terhadap paguyuban ini dibuktikan dengan tingginya undangan untuk tampil dalam berbagai kegiatan, mulai dari bersih desa, sedekah bumi, syukuran keluarga, hingga festival budaya di berbagai daerah.

Rukun Santoso Losari

Sesi Malam Diawali Wawancara Tokoh Seni dan Pendukung Acara

Setelah jeda untuk pelaksanaan ibadah Salat Maghrib, rangkaian acara kembali dimulai pukul 19.30 WIB melalui siaran langsung yang diproduksi oleh Erga Digital Multimedia.

Siaran dibuka dengan wawancara bersama Bapak Suyitno selaku tuan rumah. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan sekaligus berharap pagelaran budaya seperti ini dapat terus menjadi wadah pelestarian seni tradisional di tengah perkembangan zaman.

Rukun Santoso Losari

Dalam kesempatan tersebut, Bapak Suyitno mengungkapkan bahwa terselenggaranya Pagelaran Budaya Mahakarya Nusantara berawal dari sebuah nazar yang pernah diucapkannya ketika menghadapi masa sulit akibat kondisi kesehatan yang menurun.

Beliau menuturkan, saat menjalani masa pengobatan, dirinya bernazar bahwa apabila diberikan kesembuhan oleh Allah SWT, ia akan menggelar pagelaran kesenian tradisional dengan mengundang Kesenian Tradisional Rukun Santoso Losari, kelompok seni yang berasal dari kampung halaman istrinya.

Setelah kondisi kesehatannya berangsur pulih, nazar tersebut akhirnya diwujudkan melalui penyelenggaraan pagelaran budaya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus ungkapan terima kasih kepada keluarga, kerabat, dan masyarakat yang selama ini memberikan doa serta dukungan.

Bagi Bapak Suyitno, kegiatan ini tidak hanya menjadi pemenuhan nazar secara pribadi, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus mendukung pelestarian kesenian tradisional Jawa agar tetap dikenal dan dicintai oleh generasi penerus.

Rukun Santoso Losari

Wawancara berikutnya menghadirkan Bapak Margiono, Ketua Paguyuban Reog Teguh Wahyu Manunggal, yang menegaskan pentingnya regenerasi seniman muda agar kesenian Reog tetap lestari dan terus berkembang di tengah masyarakat.

Bagi masyarakat Kenongo, Reog bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari kehidupan sosial yang tumbuh bersama tradisi gotong royong, kebersamaan, dan rasa memiliki terhadap budaya leluhur. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan yang terus dijaga oleh seluruh anggota paguyuban.

Rukun Santoso Losari

Tim produksi juga berbincang dengan Bapak Giyono dari tim tata suara serta Bapak Heri dari tim tata cahaya yang menjelaskan persiapan teknis di balik penyelenggaraan pertunjukan sehingga seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan lancar.

Rukun Santoso Losari & Teguh Wahyu Manunggal Tutup Pagelaran dengan Atraksi Kolosal

Memasuki inti pertunjukan malam, Paguyuban Reog Teguh Wahyu Manunggal tampil membuka sesi dengan suguhan Reog yang enerjik dan penuh semangat. Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari masyarakat yang memenuhi area pertunjukan.

Paguyuban Reog Teguh Wahyu Manunggal, kelompok seni yang berasal dari Dusun Kenongo, Desa Lemahireng, Kabupaten Semarang.

Paguyuban ini menjadi wadah bagi para pecinta seni tradisional untuk terus melestarikan kesenian Reog sebagai bagian dari identitas budaya Jawa. Melalui latihan rutin dan berbagai pementasan di tengah masyarakat, Teguh Wahyu Manunggal berupaya menjaga agar kesenian tradisional tetap hidup dan mampu diteruskan kepada generasi berikutnya.

Rukun Santoso Losari

Dalam setiap penampilannya, Paguyuban Reog Teguh Wahyu Manunggal menampilkan perpaduan gerak tari, musik gamelan, serta atraksi khas Reog yang menggambarkan semangat, keberanian, dan kekompakan para pemain. Setiap pertunjukan dipersiapkan melalui latihan yang serius agar mampu memberikan hiburan sekaligus mempertahankan pakem seni tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Pada Pagelaran Budaya Mahakarya Nusantara dalam rangka Syukuran Bapak Suyitno, Teguh Wahyu Manunggal mendapat kehormatan membuka rangkaian pertunjukan malam. Penampilan mereka berhasil membangkitkan semangat penonton dan menjadi pembuka yang mengantarkan suasana menuju rangkaian atraksi spektakuler berikutnya.

Selanjutnya, Rukun Santoso Losari kembali tampil membawakan atraksi Kobra, salah satu sajian yang menjadi ciri khas kelompok kesenian tersebut. Pertunjukan berlangsung atraktif dan mampu menjaga antusiasme penonton sepanjang malam.

Rukun Santoso Losari

Pada Pagelaran Budaya Mahakarya Nusantara di Kabupaten Semarang, Rukun Santoso Losari dipercaya menjadi pengisi utama dengan menghadirkan sejumlah pertunjukan andalan, mulai dari Buto Cilik, Prajuritan, Senterewe atau Jaranan Putri, atraksi Kobra, hingga pertunjukan kolosal Buto Gedruk yang menjadi penutup acara.

Rukun Santoso Losari

Kehadiran para penari muda dalam setiap pementasan juga menunjukkan komitmen paguyuban dalam melakukan regenerasi pelaku seni. Hal ini menjadi langkah penting agar kesenian tradisional tidak berhenti pada satu generasi, melainkan terus berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas.

Bagi Rukun Santoso Losari, panggung bukan sekadar tempat pertunjukan. Lebih dari itu, panggung menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya, mempererat kebersamaan masyarakat, serta menanamkan kecintaan terhadap warisan leluhur kepada generasi penerus

Rukun Santoso Losari

Sebagai penutup, Rukun Santoso Losari mempersembahkan atraksi kolosal Buto Gedruk. Pertunjukan ini dikemas secara teatrikal dengan menghadirkan karakter tuyul-tuyul kecil yang kemudian diikuti kemunculan sosok kuntilanak sebagai bagian dari alur dramatik pertunjukan. Didukung tata cahaya, tata suara, serta iringan musik tradisional yang kuat, penampilan penutup menghadirkan suasana dramatis yang memikat perhatian masyarakat hingga akhir acara.

Tepat pukul 23.45 WIB, seluruh rangkaian Pagelaran Budaya Mahakarya Nusantara resmi berakhir dalam suasana aman, tertib, dan penuh apresiasi dari masyarakat.

Komitmen Melestarikan Warisan Budaya Jawa

Antusiasme masyarakat yang bertahan hingga penghujung acara menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan masyarakat. Pagelaran ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi media edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus ruang silaturahmi antara pelaku seni dan masyarakat.

Tim produksi juga berbincang dengan Bapak Giyono dari tim tata suara serta Bapak Heri dari tim tata cahaya yang menjelaskan persiapan teknis di balik penyelenggaraan pertunjukan sehingga seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan lancar.

Tim produksi juga berbincang dengan Bapak Giyono dari tim tata suara serta Bapak Heri dari tim tata cahaya yang menjelaskan persiapan teknis di balik penyelenggaraan pertunjukan sehingga seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan lancar.

Tim produksi juga berbincang dengan Bapak Giyono dari tim tata suara serta Bapak Heri dari tim tata cahaya yang menjelaskan persiapan teknis di balik penyelenggaraan pertunjukan sehingga seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan lancar.

Melalui kolaborasi Rukun Santoso Losari, Paguyuban Reog Teguh Wahyu Manunggal, panitia penyelenggara, serta dukungan dokumentasi dan live streaming dari Erga Digital Multimedia, Pagelaran Budaya Mahakarya Nusantara diharapkan menjadi agenda budaya yang terus berlanjut dan mampu memperkuat upaya pelestarian seni tradisional Jawa di Kabupaten Semarang maupun wilayah sekitarnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.