ERGA DIGITAL MULTIMEDIA
CREATE - CAPTURE - BROADCAST

Seksualitas di Kesultanan Islam Nusantara: Antara Adab dan Tradisi

Bagaimana masyarakat Kesultanan Islam Nusantara memandang seksualitas? Simak sejarah, adab, perkawinan, dan pergeseran maknanya di era digital.

83,696

SEMARANG — Seksualitas bukanlah sesuatu yang baru muncul di era media sosial.

Jauh sebelum TikTok, Instagram, YouTube, bahkan sebelum televisi dan radio hadir di tengah masyarakat, manusia telah berbicara tentang tubuh, pernikahan, hubungan laki-laki dan perempuan, reproduksi, hingga kehidupan rumah tangga.

Namun ada satu hal yang menarik jika kita menengok masyarakat Nusantara pada masa berkembangnya kesultanan Islam.

Mereka mengenal seksualitas. Tetapi tidak semua hal tentang seksualitas dipertontonkan.

Di sinilah perbedaannya.

Hari ini, sebuah konten yang menampilkan tubuh, sensualitas, atau kontroversi seksual dapat dengan cepat mendapatkan perhatian. Satu video bisa ditonton jutaan kali. Satu potongan gambar dapat menyebar dalam hitungan jam.

Algoritma menyukai perhatian.

Dan perhatian sering kali datang dari sesuatu yang membuat orang penasaran.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar bagaimana manusia memahami seksualitas.

Tetapi:

Apakah seksualitas hari ini sedang dipahami, atau justru sedang dikomodifikasi?


Seksualitas Bukan Tema yang Asing

Dalam tradisi masyarakat Nusantara, khususnya setelah berkembangnya pengaruh Islam, persoalan kehidupan manusia tidak selalu dipisahkan secara kaku antara perkara duniawi dan agama.

Pernikahan, keluarga, hubungan suami-istri, kelahiran, hingga persoalan moral merupakan bagian dari kehidupan yang dapat dibahas dalam ruang keilmuan.

Salah satu contoh yang kerap disebut adalah Serat Centhini.

Naskah tersebut menggambarkan kehidupan manusia dalam cakupan yang sangat luas. Di dalamnya terdapat berbagai pembahasan mengenai perjalanan hidup, tradisi, agama, relasi sosial, hingga persoalan laki-laki dan perempuan.

Keberadaan pembahasan seksual di dalam naskah semacam itu sering kali disalahpahami sebagai bukti bahwa masyarakat masa lalu bebas secara seksual.

Padahal, kesimpulan tersebut terlalu sederhana.

Membicarakan seksualitas tidak sama dengan membebaskan seksualitas.

Ada perbedaan besar antara pengetahuan dan eksploitasi.

Pengetahuan berusaha memahami.

Eksploitasi berusaha memanfaatkan.


Ada Pengetahuan, Ada Adab

Dalam tradisi Islam, persoalan hubungan laki-laki dan perempuan memiliki aturan dan etika.

Hubungan seksual ditempatkan terutama dalam institusi perkawinan. Di dalamnya terdapat hak, kewajiban, tanggung jawab, dan konsekuensi.

Karena itu, pembicaraan mengenai seksualitas dapat memiliki dimensi pendidikan.

  • Bagaimana kehidupan suami-istri dibangun?
  • Bagaimana hak dan kewajiban pasangan?
  • Bagaimana menjaga kehormatan keluarga?
  • Bagaimana hubungan antara manusia, naluri, dan tanggung jawab moral?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan sesuatu yang asing.

Tetapi pembicaraannya memiliki konteks.

Ada ilmu, tetapi ada adab.

Dan justru di situlah letak pentingnya.

Sebab mengetahui sesuatu tidak otomatis membuat seseorang berhak mengumbar sesuatu.


Masyarakat Lama Bukan Masyarakat Tanpa Seksualitas

Ada anggapan bahwa masyarakat tradisional lebih tertutup karena seksualitas dianggap tabu.

Pandangan ini juga perlu dikoreksi.

Masyarakat masa lalu tentu mengenal seksualitas. Mereka menikah, memiliki keturunan, membangun keluarga, dan menghadapi persoalan relasi sebagaimana manusia pada umumnya.

Bedanya adalah cara mereka mengatur ruang pembicaraan dan perilaku.

Sesuatu yang bersifat intim tidak selalu dibawa ke ruang publik.

  • Ada persoalan yang menjadi pembicaraan keluarga.
  • Ada yang dibahas dalam konteks perkawinan.
  • Ada yang menjadi bagian dari kajian keagamaan.
  • Ada pula yang dituangkan dalam karya sastra atau naskah tertentu.

Artinya, bukan tidak ada pembicaraan.

Tetapi terdapat batas antara ruang privat dan ruang publik.


Bahkan Humor Pun Memiliki Batas

Menariknya, budaya Nusantara juga mengenal humor yang berkaitan dengan tubuh, relasi laki-laki dan perempuan, maupun persoalan seksual.

Namun humor tradisional tidak selalu disampaikan secara vulgar.

Sindiran, perumpamaan, simbol, permainan kata, dan pasemon sering menjadi cara untuk menyampaikan sesuatu yang sensitif.

Ada kecerdasan budaya di dalamnya.

Orang bisa memahami maksudnya tanpa harus semuanya diucapkan secara telanjang.

Ini berbeda dengan sebagian budaya konten hari ini yang terkadang menjadikan keterkejutan sebagai tujuan utama.

Semakin vulgar, semakin menarik.

Semakin kontroversial, semakin ramai.

Semakin ramai, semakin tinggi engagement.

Akhirnya, algoritma ikut menentukan batas kesopanan.

Dan ini tentu persoalan yang lebih besar daripada sekadar soal pakaian atau kata-kata.


Ketika Tubuh Menjadi Komoditas

Di era digital, perhatian memiliki nilai ekonomi.

  • Jumlah penonton dapat menghasilkan uang.
  • Jumlah klik dapat meningkatkan trafik.
  • Jumlah komentar meningkatkan interaksi.

Konten yang memancing rasa penasaran dapat memperoleh distribusi lebih luas.

Dalam situasi seperti ini, seksualitas sangat mudah berubah menjadi komoditas.

Tubuh manusia tidak lagi sekadar tubuh.

Ia bisa menjadi thumbnail.

Menjadi judul.

Menjadi potongan video.

Menjadi strategi marketing.

Bahkan menjadi alat untuk membangun popularitas.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apakah semua yang menarik perhatian layak dijadikan konten?

Jawabannya tentu tidak.

Sebab viralitas bukan ukuran moralitas.

Banyak hal bisa viral karena memang menarik.

Tetapi banyak pula yang viral justru karena kontroversial.


Dari “Tidak Boleh Dibicarakan” Menjadi “Harus Dipertontonkan”

Ada ironi besar di zaman modern.

Dahulu, persoalan seksual kadang dianggap terlalu sensitif sehingga tidak boleh dibicarakan secara terbuka.

Hari ini, persoalan yang sama justru berisiko bergerak ke arah sebaliknya:

terlalu mudah dipertontonkan.

Dari satu ekstrem menuju ekstrem lainnya.

Padahal mungkin yang dibutuhkan bukan keduanya.

Bukan menutup semua pembicaraan.

Bukan pula membuka semua batas.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan membedakan antara edukasi, ekspresi, hiburan, dan eksploitasi.

Seksualitas perlu dipahami sebagai bagian dari kehidupan manusia.

Tetapi manusia juga memiliki kehormatan.

Dan kehormatan tidak selalu sejalan dengan logika pasar perhatian.


Islam Tidak Menolak Naluri Manusia

Dalam perspektif Islam, manusia tidak dipandang sebagai makhluk tanpa naluri.

Dorongan seksual adalah bagian dari kehidupan manusia.

Karena itu, Islam tidak mengajarkan manusia untuk berpura-pura bahwa naluri tersebut tidak ada.

Namun Islam juga tidak membiarkan naluri berjalan tanpa aturan.

  • Ada perkawinan.
  • Ada tanggung jawab.
  • Ada larangan.
  • Ada batas pergaulan.
  • Ada konsep kehormatan.
  • Ada adab.

Dengan kata lain:

Naluri diakui, tetapi diarahkan.

Inilah prinsip yang penting.

Sebab persoalannya bukan bagaimana menghilangkan naluri manusia.

Tetapi bagaimana manusia mengendalikan dan menempatkan naluri tersebut sesuai dengan nilai yang diyakininya.


Belajar dari Masa Lalu Tanpa Memuja Masa Lalu

Tentu kita tidak boleh menggambarkan masyarakat kesultanan Islam Nusantara sebagai masyarakat yang sempurna.

Sejarah selalu jauh lebih kompleks.

Ada perbedaan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Ada perbedaan antara kerajaan, kesultanan, kelas sosial, dan periode sejarah.

Karena itu, tidak tepat pula mengatakan bahwa seluruh masyarakat Nusantara memiliki satu pola yang sama dalam memandang seksualitas.

Namun, dari sejarah tersebut kita dapat menemukan sebuah gagasan penting:

Sesuatu dapat diketahui tanpa harus dipertontonkan.

Dan sesuatu dapat dibicarakan tanpa harus kehilangan adab.

Barangkali prinsip sederhana inilah yang semakin dibutuhkan di era ketika kamera berada di tangan hampir semua orang.


Pertanyaan Besarnya Bukan “Boleh atau Tidak?”

Pada akhirnya, persoalan seksualitas di era digital tidak cukup dijawab dengan pertanyaan:

“Boleh atau tidak?”

Kita perlu bertanya lebih jauh.

Untuk apa?

Siapa yang melihat?

Apa konteksnya?

Apa dampaknya?

Apakah ini pendidikan atau eksploitasi?

Apakah ini membantu manusia memahami dirinya atau justru menjadikan manusia sebagai objek konsumsi?

Karena ketika semua hal diukur dengan view, like, dan engagement, ada risiko bahwa sesuatu yang seharusnya memiliki nilai kemanusiaan justru berubah menjadi barang dagangan.

Dan mungkin di sinilah kita perlu kembali melihat pelajaran dari masa lalu.

Bukan untuk kembali hidup di masa lalu.

Tetapi untuk mengambil kebijaksanaan yang masih relevan.

Sebab peradaban tidak menjadi maju hanya karena semakin banyak hal yang berani dipertontonkan.

Peradaban justru terlihat ketika manusia mampu berkata:

“Saya bisa melakukan ini, tetapi saya memilih untuk tidak melakukannya karena ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar perhatian.”

Itulah adab.

Dan mungkin, di tengah dunia yang berlomba mendapatkan klik, adab adalah batas terakhir yang membuat manusia tetap menjadi manusia.

You might also like
Leave A Reply

Your email address will not be published.